Langsung ke konten utama

Mengenal Budaya 'Meiwaku': Alasan Mengapa Orang Jepang Selalu "Cuek" Saat Melihat Artis di Jalanan

 

...

Pernahkah Anda menonton video vlog atau acara realitas (reality show) di mana para idol atau artis papan atas Jepang sedang berjalan-jalan di tempat umum? Jika diperhatikan dengan seksama, ada satu pemandangan yang cukup unik sekaligus kontras jika dibandingkan dengan negara kita.

Di tengah hiruk-pikuk jalanan Tokyo, masyarakat setempat tampak berjalan lurus begitu saja. Tidak ada teriakan histeris, tidak ada kerumunan massa yang meminta foto bersama, bahkan tidak ada yang sengaja mencari perhatian (caper) di depan kamera. Mereka seolah-olah "cuek" dan menganggap para selebriti tersebut seperti warga biasa.

Apakah orang Jepang tidak mengenali artis mereka sendiri? Tentu saja kenal. Di balik sikap dingin tersebut, ada sebuah filosofi hidup dan hukum sosial tidak tertulis yang tertanam sangat dalam di sanubari masyarakat Jepang. Budaya itu disebut "Meiwaku".

Apa Itu Budaya Meiwaku?
Secara harfiah, Meiwaku dalam bahasa Jepang berarti gangguan, kesulitan, atau merepotkan orang lain. Sejak usia dini baik di lingkungan keluarga maupun sekolah, anak-anak di Jepang sudah dididik dengan doktrin sosial yang sangat kuat: “Hito ni meiwaku wo kakeruna” (Jangan menimbulkan masalah bagi orang lain).

Bagi masyarakat Jepang, menjaga keharmonisan di ruang publik adalah sebuah kewajiban mutlak. Ruang publik bukan hanya milik individu, melainkan milik bersama yang kenyamanannya harus dijaga oleh setiap orang yang berada di sana.

Hubungan Meiwaku dengan Sikap "Cuek" Terhadap Artis
Ketika seorang figur publik atau kru televisi sedang melakukan syuting di jalanan, masyarakat Jepang melihatnya sebagai sebuah proses kerja. Di sinilah konsep Meiwaku bekerja secara otomatis dalam pikiran mereka:

1. Menghormati Ruang Kerja dan Privasi
Mengerumuni artis secara tiba-tiba, berteriak, atau menghentikan langkah mereka untuk meminta tanda tangan dianggap sebagai tindakan yang tidak sopan. Tindakan tersebut dinilai dapat mengganggu jalannya pekerjaan sang artis dan kru kamera, sekaligus menyusahkan pejalan kaki lain yang hak jalannya menjadi terhambat akibat kerumunan.

2. Menghindari "Mata Kamera" Demi Kenyamanan Bersama
Di Jepang, hak privasi dan hak potret dilindungi sangat ketat oleh hukum. Menampilkan wajah orang asing di video publik tanpa izin bisa berujung pada masalah hukum. Warga Jepang sangat memahami hal ini. Menariknya, alih-alih mendekat agar masuk TV, mereka justru akan berjalan cepat menghindar atau memutar arah agar wajah mereka tidak masuk ke dalam bingkai kamera. Mereka tidak ingin merepotkan editor video yang nantinya harus bersusah payah menyensor atau membuat efek blur wajah mereka satu per satu.

3. Tuntutan untuk Tidak Menonjolkan Diri
Kultur Jepang adalah kultur kolektif yang statis. Ada pepatah Jepang yang terkenal: "Paku yang menonjol akan dipukul ke bawah." Bertingkah heboh atau melambaikan tangan secara berlebihan di depan umum demi masuk kamera dianggap sebagai perilaku yang memalukan "hazukashii" dan merusak estetika ketertiban lingkungan sekitar.

Pelajaran Penting yang Bisa Dipetik
Perbedaan reaksi antara masyarakat Jepang dan negara-negara lain (seperti Indonesia yang cenderung lebih ekspresif dan komunal) sebenarnya bukanlah hal yang salah atau benar. Ini hanyalah masalah perbedaan benturan budaya.

Namun, dari budaya Meiwaku ini, kita bisa belajar banyak tentang arti sebuah empati sosial tingkat tinggi. Bahwa mengagumi seseorang termasuk artis idola bukan berarti kita berhak merenggut kenyamanan ruang publik dan ruang gerak mereka. Terkadang, bentuk apresiasi tertinggi kepada idola adalah dengan memberikan mereka ruang untuk bekerja dan bernapas dengan tenang.


Chy`26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Jiwa

Dua Jiwa Bagaimanapun keadaan saat ini Baik maupun tidak Bersyukurlah kita tetap bersama Dua jiwa dalam satu raga   Bila bersama kita tidak akan sendirian Meski nyata ataupun tidak Kau menganggapku ada dan akupun juga demikian Sebagai dua jiwa dalam satu raga   Bersama kita tidak akan sendirian Meskipun raga ini satu Kau dan aku adalah pribadi yang berbeda Sebagai dua jiwa   Jangan pernah merasa sendirian Kau dan aku adalah kita Kita akan selalu ada Dalam satu raga   Kau menganggapku ada Aku akan selalu bersamamu Kau pun pasti demikian Wahai diriku

Ingin Cepat Menguasai Materi Justru bisa Kontraproduktif

Ketergesaan dalam mempelajari materi seringkali menjadi penghalang utama untuk pemahaman yang mendalam dan retensi jangka panjang. Ada beberapa alasan mengapa "ingin cepat menguasai materi" justru bisa kontraproduktif: Pemrosesan yang Dangkal Ketika kita terburu-buru, kita cenderung fokus pada menghafal informasi permukaan tanpa benar-benar memahaminya. Otak membutuhkan waktu untuk memproses informasi baru, menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah ada, dan membangun pemahaman yang kokoh. Ketergesaan memotong proses ini. Kurangnya Koneksi Antar Konsep Pemahaman yang baik seringkali melibatkan melihat bagaimana berbagai konsep saling terkait. Jika kita terburu-buru, kita mungkin melewatkan hubungan-hubungan penting ini, sehingga pengetahuan kita menjadi terfragmentasi dan tidak utuh. Tidak Cukup Waktu untuk Refleksi Proses belajar yang efektif melibatkan waktu untuk merenungkan apa yang telah dipelajari, mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, dan mencari contoh-contoh a...

Penyakit Hati yang Harus Disembuhkan

Penyakit hati dapat muncul di dalam diri dan dapat diibaratkan "racun" yang sering kali tidak terlihat namun bisa merusak diri. Jika dibiarkan, penyakit hati bisa memicu kegagalan dan menimbulkan dampak negatif bagi diri sendiri maupun orang lain. Artikel ini merupakan rangkuman yang bersumber dari buku " Smart Islamic Teacher"   karya "Assyabiya Ariffah" yang diterbitkan Araska Publisher. Berikut ini ringkasan dari isi salah satu bab di buku dan apabila ingin versi lengkapnya dapat ditemukan di buku tersebut.  1. Mengeluh (Membuang Sampah Emosi ke Orang Lain) Sering kali, saat kita merasa kecewa atau susah, kita menjadikannya alasan untuk mengeluh kepada siapa saja. Tanpa disadari, kita sedang membuang "sampah" kekecewaan kita kepada orang lain. Gejala: Hal-hal sepele, seperti cuaca yang panas, bisa menjadi alasan untuk merasa diri paling tidak beruntung. Motif Tersembunyi: Biasanya, mengeluh adalah cara bawah sadar kita untuk meminta perhatian,...